Untaian Faidah Daurah Muslimah ~ “Bagaimana Menjadi Istri Sholihah dan Ibu yang Sukses”
Kesuksesan rumah tangga yang hakiki adalah ketika pasangan suami istri memiliki kesamaan dalam niat & tujuan. Yaitu mencari keridhaan Allah. Lalu melangkah bersama di atas jalan yang mengantarnya kepada tujuan tersebut..
Bismillaahirahmaanirrahiim…
~ Seseorang ketika sukses dalam kehidupan rumah tangganya berakibat pada kesuksesan lainnya dalam kehidupannya. Karena kesuksesan itu akan mengantar kepada kesuksesan lainnya.
~ Diantara sifat-sifat wanita shalihah diantaranya..
- Menunaikan hak hak Allah,
- Taat kepada suami,
- Muslimat,
- Mukminat,
- Qaanitat,
- Taibat,
- Abidat,
- Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di rumahnya,
- Penuh kasih sayang,
- Melayani suaminya,
- Selalu berpenampilan bagus dan menarik di hadapan suaminya,
- Mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya,
- Tidak menyibukkan dirinya dengan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya,
- Banyak bersyukur kepada suami.
- Menjaga dan menutupi,
- Tidak menuntut sesuatu di luar kebutuhan dan tidak mau menerima pemberian suami jika berasal dari yang haram.”
~ Jika suami tidak mendapatkan di dalam rumahnya seorang istri yang lemah lembut, penuh kasih sayang, selalu tampil bersih, menyunggingkan senyuman, tidak mendengar perkataan yang baik, tidak mendapatkan cinta yang tulus, akhlak Islam yang mulia dan tangan yang menjulurkan cinta.. Lalu dimanakah dia harus mendapatkannya?
Tidaklah mungkin bagi seorang wanita untuk menjadi shalihah tanpa ujian.. “Apakah mereka dibiarkan saja mengatakan beriman tanpa diuji lagi?”~ Ketika ujian itu datang, maka sabar adalah akhlak yang paling utama. Sabar adalah pengorbanan.. Inilah sabar dengan 3 tingkatannya:
- Sabar dalam ketaatan.
- Sabar dalam menahan diri dalam kemaksiatan.
- Sabar atas musibah yang menimpanya.
Sabar itu berat dan kadang butuh perjuangan. Tapi mengingat besar pahala yang didapat, maka akan terasa ringan bagi orang-orang beriman..~ Kadangkala kekufuran istri terhadap suaminya disebabkan oleh tidak terpenuhinya harapan-harapan istri akan sosok suami seperti apa yang selama ini diharapkannya.. Ketahui dan sadarilah bahwa kehidupan pernikahan tidaklah selalu persis seperti yang kita harapkan.. Seperti yang kita impikan.. Suami selayaknya kita sebagai manusia, memiliki kekurangan dan kelebihan.
~ Ketika mendapati suami tengah futur atau lalai, maka itu adalah ladang pahala dan amal shalih bagi istri. Da’wahilah suami, bukan malah dijauhi.. Apalagi sampai membuka aib dan menyebarkan kekurangan suami kepada orang banyak. Karena sesungguhnya suamimu adalah pakaian bagimu, begitu juga dirimu baginya. Itulah fungsi dari pernikahan :)
“Saat ini banyak perceraian dan kegagalan rumah tangga yang penyebabnya adalah perselingkuhan.” (Ustadz Kholid Syamhudi)~ Jika qaddarallaah suami terjerat perselingkuhan, maka langkah yang sebaiknya diambil oleh istri adalah:
- Introspeksi diri. Sudahkah ia menunaikan hak-hak suami dengan sebaik-baiknya? Jika belum, maka hal ini adalah cambuk baginya untuk mulai berubah.
- Mengajak suami untuk lebih mendalami agama, kembali memahami hak dan kewajiban suami terhadap istri dalam kehidupan pernikahan.
- Bersabar atas ketentuan Allah. Boleh jadi Allah menghendaki kebaikan berupa pahala besar jika si istri mau bersabar..
Salah satu kesalahan suami yang banyak terjadi dalam kehidupan berpoligami adalah.. Memaksakan diri untuk berpoligami sementara ia belum bisa mendidik istri pertamanya agar siap dan menerima untuk dipoligami.Sehingga terjadilah peristiwa yang tidak diharapkan seperti yang ditanyakan pada Ustadz berikut ini..
~ Seorang suami menikah lagi secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang istri pertama. Setelah beberapa waktu, sang istri akhirnya tahu. Setelah tahu sang istri pertama mengancam untuk bunuh diri bila sang suami tetap memilih untuk mempertahankan madunya tersebut. Akhirnya sang suami mengisyaratkan istri keduanya agar mundur. Pertanyaan: Apakah isyarat suami tsb sdh termasuk dalam jatuhnya talak?
Jawab: Jika sang suami memang meniatkan untuk mentalak istri keduanya, maka jatuhlah talak.. Tapi jika ia tidak meniatkan untuk mentalak, maka talak itu tidak jatuh.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari pertanyaan ini adalah,
- Tidak patut seorang istri ketika dihadapkan pada situasi ini, menjadi buta matanya, tidak dapat membedakan mana perbuatan yang maksiat dan yang tidak. Bunuh diri, apapun alasannya jelas termasuk perbuatan maksiat.
- Dan bukan sikap seorang istri yang mukminah, menyuruh suaminya untuk menceraikan madunya tanpa alasan yang syar’i.
- Bagi sang suami, sebelum Anda berpoligami, didik dan persiapkanlah diri dan istri Anda. Ya, poligami.. Bisa menjadi solusi, pun bisa menjadi polusi. Kembali mengingatkan, “Al ilmu qablal qaulu wal amal..”. Termasuk dalam berpoligami.
Teringat khutbah penutupan Daurah Muslimah di Masjid Imam Ahmad bin Hanbal Bogor oleh Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas kurang lebih 4 tahun yang lalu..
“Setelah daurah ini selesai, harusnya ada perubahan dalam diri kita. Perubahan ke arah yang lebih baik, dalam ilmu dan amal. Bukannya tetap sama saja bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Jangan hanya ‘hobi’ datang Daurah, Tabligh Akbar, Bedah Buku.. Jangan sampai hanya disebut ‘Ahli Daurah’ karena tiap daurah didatangi tapi tidak ada peningkatan ilmu dan amal. Itulah ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang sia-sia. Sudah capek, sia-sia pula. Wal’iyadzubillah..”Seorang kawan menambahkan, “Maka, tidak usah risau terhadap ‘ilmu yang belum didapat. Tapi risaulah terhadap ‘ilmu yang telah didapat, namun tidak diamalkan..”
Hanya sedikit yang bisa saya catat dan bagi disini mengenai nasehat Ustadz Kholid tentang Bagaimana Menjadi Istri Sholihah dan Ibu Yang Sukses.. Pasti banyak sekali yang terlewat ketika saya sedang mengantri di kamar mandi atau saat diajak ngobrol sama akhowat yang duduk di sebelah. Padahal sudah berusaha menghindar tapi masih saja :)))
Jika ada kesalahan atau kekurangan, mohon kritikannya melalui blog ini juga. Insya Allah akan segera saya revisi. Maklum, mencatatnya serba buru-buru ditambah sound system yang sering bermasalah. Semoga bermanfaat yaa akhawatiy fillah, barakallaahu fiikunnaa…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar